Rohana Kudus Pelopor Jurnalisme Perempuan Pertama Asia Tenggara

Lampung Utara LM – Nama Rohana Kudus atau dikenal pula sebagai Ruhana Kuddus terpatri kuat dalam sejarah pers dan perjuangan perempuan Indonesia. Ia bukan sekadar wartawan perempuan pertama di Indonesia dan Asia Tenggara, tetapi juga sosok visioner yang menjadikan pena sebagai alat perlawanan terhadap ketidakadilan dan ketertinggalan perempuan pada awal abad ke-20. Atas jasa-jasanya, negara menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2019.

Pena sebagai senjata perjuangan, di masa ketika ruang publik nyaris sepenuhnya dikuasai laki-laki, Rohana Kudus tampil berani menembus batas. Ia memanfaatkan jurnalisme sebagai medan perjuangan, menyuarakan hak-hak perempuan yang selama ini terpinggirkan. Melalui tulisan-tulisannya, Rohana secara tajam mengkritik praktik pergundikan, ketidakadilan sosial, serta budaya yang mengekang perempuan dari akses pendidikan dan kemandirian.

Keberanian Rohana menulis isu-isu sensitif pada masanya menjadikannya figur sentral dalam pergerakan emansipasi perempuan. Baginya, pers bukan sekadar sarana informasi, melainkan alat perubahan sosial.

Puncak kiprah jurnalistik Rohana Kudus terwujud melalui pendirian Soenting Melajoe pada tahun 1912. Surat kabar ini menjadi media perempuan pertama di Indonesia yang secara khusus menyuarakan aspirasi, pemikiran, dan perjuangan kaum perempuan Melayu.

Menariknya, Soenting Melajoe tidak hanya beredar di wilayah Hindia Belanda, tetapi juga menjangkau Singapura dan Malaka. Hal ini menunjukkan besarnya pengaruh dan relevansi gagasan-gagasan Rohana dalam lingkup regional Asia Tenggara. Melalui media tersebut, perempuan untuk pertama kalinya memiliki ruang untuk berbicara tentang diri mereka sendiri, dari sudut pandang mereka sendiri.
Pelopor Pendidikan Perempuan

Perjuangan Rohana tidak berhenti di dunia jurnalistik. Ia juga dikenal sebagai pelopor pendidikan perempuan, khususnya di Minangkabau. Rohana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia, sebuah lembaga pendidikan yang mengajarkan keterampilan praktis, keaksaraan huruf Latin dan Jawi, serta pengetahuan dasar lainnya kepada perempuan.

Melalui pendidikan, Rohana percaya perempuan dapat mandiri secara ekonomi dan intelektual. Langkah ini menjadi fondasi penting bagi kebangkitan peran perempuan dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Minangkabau.
Latar Keluarga dan Warisan Intelektual

Rohana Kudus lahir dari keluarga terpelajar. Ayahnya dikenal sebagai seorang jurnalis, lingkungan yang turut membentuk kecintaannya pada dunia tulis-menulis dan pemikiran kritis. Ia juga memiliki hubungan keluarga dengan tokoh besar sastra Indonesia, yakni Chairil Anwar, yang merupakan keponakannya. Warisan intelektual ini menegaskan bahwa Rohana berada dalam garis tradisi pemikiran progresif yang kuat.

Pengabdian panjang Rohana Kudus akhirnya mendapatkan pengakuan resmi negara. Pada 8 November 2019, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya.

Jauh sebelum itu, berbagai penghargaan telah diberikan, antara lain, Wartawati Pertama dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (1974), Perintis Pers Indonesia dari Menteri Penerangan (1987), Penghargaan tersebut menjadi penanda penting atas kontribusinya dalam dunia pers dan perjuangan sosial.

Rohana Kudus kini dikenang sebagai simbol perempuan Indonesia yang berani melawan ketidakadilan melalui kekuatan kata-kata dan pendidikan. Jejak perjuangannya membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari tulisan, dari keberanian berpikir, dan dari tekad untuk mencerdaskan sesama.

Dalam sejarah bangsa, Rohana Kudus bukan hanya pelopor, tetapi juga inspirasi lintas zaman bagi jurnalis, perempuan, dan siapa pun yang percaya bahwa pena mampu mengubah dunia. Disadur dari berbagai sumber. (Ipul)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *