Lampung Utara LM – Kemampuan literasi numerasi kini menjadi salah satu kompetensi paling krusial dalam dunia pendidikan modern. Di tengah kehidupan yang sarat informasi berbasis data, grafik, dan tabel, peserta didik tidak lagi cukup hanya mahir menghitung angka di atas kertas. Mereka dituntut mampu bernalar, mengambil keputusan, serta memecahkan persoalan nyata di kehidupan sehari-hari menggunakan konsep matematika.
Sayangnya, matematika sering kali masih dianggap sebagai momok yang menakutkan dan abstrak oleh sebagian besar siswa. Mengubah persepsi ini tentu bertumpu pada peran guru sebagai aktor utama perancang pengalaman belajar di kelas. Guru dituntut kreatif menyusun bahan ajar dan instrumen evaluasi yang tidak sekadar menguji hafalan rumus, melainkan memantik nalar kritis siswa.
Langkah strategis inilah yang mendasari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) tim dosen Universitas Muhammadiyah Kotabumi di SMA IT Insan Rabbani baru-baru ini. Kami melihat ada urgensi besar untuk memperkuat kompetensi guru melalui digitalisasi perangkat pembelajaran, salah satunya memanfaatkan teknologi Virtual Reality (VR).
Program ini dilaksanakan oleh tim pengabdianyang terdiri atas Dr. Purna Bayu Nugroho, M.Pd. sebagai ketua, Khusnul Khotimah, S.Kom., M.T.I., Venty Meilasari, M.Pd., serta tiga anggota mahasiswa, yaitu Hikmah Nur Hidayah, Putri Ayu Dwi Setiorini, dan Hadid Al Hafidz.
Fondasi Kuat Sebelum Sentuhan Teknologi
Teknologi dalam ruang kelas sering kali gagal memberikan dampak berkelanjutan karena hanya dikejar sebagai pemanis visual atau tren sesaat. Banyak sekolah terjebak menggunakan aplikasi modern tanpa menyelaraskannya dengan substansi esensi materi. Menghindari jebakan tersebut, program pemberdayaan guru ini sengaja dirancang secara bertahap dengan membangun fondasi pemahaman mendasar terlebih dahulu.
Sebelum menyentuh gawai canggih, para guru di SMA IT Insan Rabbani dibekali penguatan konsep literasi numerasi. Pembelajaran matematika—maupun mata pelajaran lainnya—harus mampu mengenali situasi kontekstual yang akrab dengan keseharian siswa. Setelah persepsi ini selaras, pelatihan dilanjutkan ke tahap penyusunan bahan ajar dan instrumen penilaian khusus.
Melalui proses pendampingan yang intensif, para guru didorong menerjemahkan konsep abstrak ke dalam lembar kerja nyata. Hasilnya, instrumen evaluasi yang disusun tidak lagi sekadar mengukur kemampuan siswa mencari jawaban akhir, tetapi mampu memetakan proses berpikir, penalaran, serta kemampuan memecahkan masalah. Proses pendampingan terlaksana dalam beberapa rangkaian kegiatan
Rangkaian kegiatan pengabdian diawali dengan sosialisasi program kepada pihak sekolah dan guru. Sosialisasi menjadi tahap awal untuk menyampaikan tujuan, manfaat, mekanisme kegiatan, serta membangun kesepahaman mengenai peran tim pengabdian dan mitra selama program berlangsung. Pada 11 Juni 2026 dilaksanakan Pelatihan Pemahaman Literasi Numerasi dengan narasumber Dr. Purna Bayu Nugroho, M.Pd. Pelatihan tersebut memberikan penguatan kepada guru mengenai konsep, indikator, dan penerapan literasi numerasi dalam pembelajaran. Kegiatan dilanjutkan pada 4 Juli 2026 melalui Pelatihan Penyusunan Bahan Ajar Literasi Numerasi.
Setelah pelatihan, pendampingan penyusunan bahan ajar dilaksanakan pada 4 dan 6 Juli 2026. Guru diarahkan untuk mengembangkan bahan ajar yang lebih kontekstual dan dapat digunakan untuk mendorong kemampuan siswa memahami informasi, bernalar, dan menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan kehidupan nyata.
(Dr. Purna Bayu Nugroho, M.Pd. dalamPelatihan dan Pendampingan Penyusunan Bahan Ajar)
Tahap berikutnya berfokus pada penyusunan instrumen literasi numerasi. Pelatihan dilaksanakan pada 25 Juli 2026 dengan narasumber Venty Meilasari, M.Pd., kemudian dilanjutkan dengan pendampingan pada 25 dan 27 Juli 2026. Melalui kegiatan tersebut, guru diarahkan untuk menyusun instrumen yang dapat memberikan gambaran lebih baik mengenai kemampuan literasi numerasi siswa. Dalam target program, setiap guru diharapkan mampu menghasilkan sekurang-kurangnya 10 butir soal literasi numerasi. Dengan adanya bahan ajar dan instrumen yang dikembangkan oleh guru sendiri, program diharapkan dapat memberikan fondasi yang lebih kuat bagi pengembangan pembelajaran literasi numerasi di sekolah.
(Venty Meilasari, M.Pd. dalam Pelatihan Penyusnunan Instrumen Literasi Numerasi)
Selanjutnya Mengarah pada Teknologi Virtual Reality
Rangkaian kegiatan yang telah berlangsung pada Juni dan Juli 2026 merupakan bagian dari tahapan awal program. Setelah penguatan konsep, bahan ajar, dan instrumen, program selanjutnya akan memasuki tahap pemanfaatan teknologi pembelajaran berbasis Virtual Reality (VR).
Pada tahap berikutnya akan dilaksanakan pelatihan dan pendampingan penyusunan bahan ajar berbasis Virtual Reality menggunakan aplikasi MilleaLab. Materi pada tahap ini akan disampaikan oleh Khusnul Khotimah, S.Kom., M.T.I. Pelatihan tersebut dirancang untuk membekali guru dengan keterampilan dalam memanfaatkan MilleaLab sebagai platform pengembangan bahan ajar berbasis VR. Guru akan diarahkan untuk mengenali lingkungan aplikasi, merancang konten pembelajaran, mengembangkan bahan ajar, serta menyesuaikannya dengan kebutuhan literasi numerasi dan karakteristik peserta didik.
Pemanfaatan teknologi VR diharapkan dapat membuka alternatif pembelajaran yang lebih visual dan interaktif. Dalam rancangan program, VR digunakan untuk membantu memvisualisasikan konsep pembelajaran sehingga materi yang bersifat abstrak, spasial, atau membutuhkan pengalaman kontekstual dapat disajikan secara lebih konkret. Teknologi yang akan dikembangkan menggunakan aplikasi MilleaLab dengan dukungan perangkat seperti smartphone atau komputer, koneksi internet, dan perangkat headset VR. Guru diposisikan sebagai pengembang bahan ajar, sedangkan siswa menjadi pengguna bahan ajar dalam proses pembelajaran.
Bukan Sekadar Menggunakan Teknologi
Penerapan VR dalam program ini tidak diarahkan sekadar untuk memperkenalkan teknologi baru kepada guru. Hal yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan untuk menjawab persoalan pembelajaran literasi numerasi. Karena itu, setelah pelatihan penggunaan MilleaLab, guru akan mendapatkan pendampingan dalam mengembangkan bahan ajar berbasis VR.
Guru diharapkan dapat menyesuaikan konten dengan mata pelajaran yang diampu, tujuan pembelajaran, serta indikator literasi numerasi. Program menargetkan tersedianya media pembelajaran VR berbasis MilleaLab pada setiap kelompok guru dan minimal 70 persen guru mampu membuat serta mengedit konten VR secara mandiri. Target tersebut merupakan sasaran program dan belum dinyatakan sebagai capaian karena tahapan pelatihan dan pengembangan bahan ajar VR masih akan dilaksanakan.
Dari Pengembangan Media Menuju Implementasi di Kelas
Tahap berikutnya setelah bahan ajar VR dikembangkan adalah pendampingan guru dalam mengimplementasikannya pada proses pembelajaran di kelas. Tim pengabdian akan mendampingi guru dalam penerapan bahan ajar, melakukan observasi proses pembelajaran, serta melakukan evaluasi terhadap penggunaan media tersebut. Evaluasi direncanakan melalui pre-test dan post-test literasi numerasi serta angket untuk mengetahui persepsi siswa terhadap penggunaan bahan ajar VR.
Dalam rancangan program, bahan ajar VR ditargetkan dapat diimplementasikan sekurang-kurangnya dalam dua pertemuan pembelajaran. Program juga menetapkan target minimal 75% siswa memberikan respons positif terhadap bahan ajar VR dan peningkatan rata-rata nilai literasi numerasi dari pre-test ke post-test sekurang-kurangnya 20%. Namun, angka tersebut merupakan target program, bukan hasil yang telah dicapai. Hasil peningkatan literasi numerasi baru dapat disampaikan setelah tahap implementasi dan evaluasi selesai dilakukan.
Berbasis Hasil Riset
Program pengabdian ini memiliki keterkaitan dengan pengalaman riset tim pelaksana. Ketua tim pengabdian, Purna Bayu Nugroho, pada 2025 melakukan penelitian dengan judul “Pengembangan Worksheet Matematik Berbasis Virtual Reality untuk Memperkuat Kemampuan Literasi Numerasi Siswa Sekolah Menengah Atas”. Penelitian tersebut menghasilkan bahan ajar berupa worksheet berbasis Virtual Reality yang telah dicatatkan sebagai HKI. Keterkaitan antara penelitian dan pengabdian menjadi dasar untuk menghilirkan pengetahuan dan pengalaman pengembangan bahan ajar berbasis VR kepada guru.
Anggota tim juga memiliki pengalaman penelitian yang berkaitan dengan kemampuan literasi numerasi dan pengembangan media pembelajaran digital. Dengan latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian diarahkan untuk menghubungkan hasil pengetahuan dan pengalaman penelitian dengan kebutuhan nyata guru di sekolah.
Membangun Pembelajaran yang Berkelanjutan
Program pengabdian tidak dirancang sebagai kegiatan yang selesai setelah pelatihan. Keberlanjutan menjadi bagian penting dari program. Guru diharapkan dapat mengembangkan bahan ajar literasi numerasi secara mandiri, menggunakan instrumen yang telah disusun, serta mengembangkan bahan ajar VR lanjutan sesuai kebutuhan pembelajaran. Sekolah juga didorong untuk mengintegrasikan bahan ajar berbasis VR dalam pembelajaran secara berkelanjutan. Selain itu, program merancang pengembangan komunitas praktisi guru sebagai ruang berbagi pengalaman dan pengembangan pembelajaran. Melalui rangkaian tersebut, pemberdayaan guru diharapkan dapat memperkuat kapasitas sekolah dalam mengembangkan pembelajaran literasi numerasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan siswa.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program
Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026, Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, dengan dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
(Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Kotabumi dan Ketua Tim PkM Penguatan Numerasi)





